Sakit Kepala Pada Balita
Memang dokter yang sabar dan teliti, umumnya bisa memancing anak
dengan aneka pertanyaan seputar apa yang dirasakan anak dengan
“pusingnya” itu. Tapi , ya, itu tadi, anak kerap sulit menjelaskan
karena ia memang belum mampu. Sebetulnya , orang tua bisa membantu
memberi info pada dokter, dari pengamatan di rumah dan pertanyaan pada
si kecil, supaya diagnosa dokter bisa lebih tepat. Kalaupun dianggap
perlu, untuk mempertegas diagnosa, dokter akan melakukan pemeriksaan
tambahan seperti scanning atau EEG (elektroensefalografi) . tentu saja pemeriksaan yang tidak murah ini dilakukan bergantung kepada berat ringannya keluhan.
Yang jelas, sakit kepala merupakan gejala yang bisa disebabkan banyak
hal. Bisa karena adanya infeksi pada tubuh, racun dalam tubuh, trauma
mekanik, alergi, atau adanya tumor di kepala. Kalau faktor psikis,
jarang terjadi. Karena pada anak, jika ia stress, responnya lebih
bersifat spontan. Artinya , tak seperti orang dewasa yang melalui
“proses berpikir” . Anak stress, biasanya bentuknya lebih mengarah pada
kelainan seperti sulit makan, muntah atau sakit perut.
Tapi apapun penyebabnya, sebaiknya jangan anggap remeh jika si kecil
mengeluh sakit kepala. Lebih baik konsultasikan ke dokter agar bisa
segera ditangani dengan tepat apabila ternyata penyebabnya memang
serius.
Pertolongan Pertama
Sebagai pertolongan pertama di rumah, berikan obat yang mengandung
parasetamol. Memang , parasetamol lebih kerap digunakan untuk menurunkan
panas. Akan tetapi, sebenarnya obat ini juga memberikan efek
menghilangkan rasa sakit.
Bisa juga diberikan ibuprofen. Yang patut diingat, obat-obatan ini
hanya menghilangkan gejala dan sifatnya untuk pertolongan pertama saja.
Jadi, bila sakit kepala tak juga reda, segera bawa anak ke dokter !
Ragam Penyebab Sakit Kepala
Infeksi Kuman
Ini yang paling banyak. Gara-gara adanya racun yang dihasilkan kuman
yang berada dalam darah, akhirnya mengenai otak. Sebelum darah masuk ke
daerah otak, memang akan ada pelindung yang disebut blood rain barrier .
Fungsinya, menyaring zat dalam darah yang akan masuk ke daerah otak.
Ada kalanya barrier berhasil mencegah kuman masuk ke otak, tapi gagal
mencegah masuknya toksin dari kuman. Ini yang kerap menimbulkan sakit
kepala kala mengalami infeksi pada tubuh.
Infeksi ringan dengan salah satu gejalanya sakit kepala, diantaranya
flu dan radang tenggorok. Sementara infeksi sedang yang bisa menjadi
berat adalah demam tifoid, demam berdarah, dan infeksi selaput otak.
Yang perlu dicatat, bila sakit kepala disertai demam dan penurunan
tingkat kesadaran, segera bawa ke dokter karena ada kemungkinan infeksi
mengenai daerah sistem saraf pusat.
Gangguan Metabolik
Yang sering terjadi adalah rendahnya kadar glukosa dalam darah.
Seperti diketahui, glukosa dalam darah merupakan salah satu sumber
tenaga. Jika anak tak sempat sarapan, misal, kadar gula dalam darah jadi
rendah. Di lain pihak, tubuh dan otak bekerja terus dan membutuhkan
glukosa sebagai bahan bakar metabolismenya. Nah, karena kadar gula dalam
darahnya kurang, muncul sakit kepala. Sering juga disertai perasaan mau
pingsan, keringat dingin, dan kulit jadi tampak pucat.
Gangguan lain yang juga kerap terjadi adalah anemia. Kita tahu, untuk
metabolisme otak, diperlukan asupan zat asam (oksigen), yang dibawa
oleh hemoglobin (sel darah merah) melalui aliran darah. Nah , pada anak
penderita anemia, kadar hemoglobinnya rendah, sehingga sarana pengangkut
zat asam ke jaringan otak pun berkurang. Karenanya, terjadilah sakit
kepala. Gejala ini ada terus-menerus dari hari ke hari, walaupun
biasanya tak bertambah berat. Pasalnya, anemia bersifat kronik, sehingga
gejala sakit kepalanya juga kronis.
Umumnya, di Indonesia dan Negara-negara berkembang, anemia pada anak
yang paling banyak ditemui, disebabkan kekurangan zat besi. Banyak
faktor yang menyebabkan terjadi kekurangan zat besi. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadi kekurangan zat besi, antara lain pertumbuhan anak
yang cepat sekali, pola makan kurang tepat, penyakit infeksi, gangguan
penyerapan zat besi, dan perdarahan di saluran cerna akibat penyakit
kelainan usus ataupun oleh karena infeksi cacing tambang dan parasit
lainnya.
Gejala anemia tergantung dari berat-ringan penyakitnya. Anemia
ringan, biasanya menimbulkan gejala pucat, lesu, lelah dan pusing.
Sedangkan anemia tingkat berat, akan mengganggu fungsi jantung dan
menimbulkan gejala sesak napas, berdebar-debar, bengkak di kedua kaki,
hingga gagal jantung.
Bila gejala anemia berlangsung dalam jangka waktu relatif lama dapat
mengakibatkan berbagai gangguan organ dan sistem pada tubuh anak.
Diantaranya , gangguan pertumbuhan organ, seperti tubuh anak tampak
kecil dibanding usianya, gangguan otot gerak, hingga anak cepat
lelah dan lesu, gangguan sistem kekebalan tubuh, hingga anak mudah
sakit, gangguan jantung, yaitu berkurangnya kemampuan jantung untuk
memompa darah, dan gangguan fungsi kognitif, antara lain kurang mampu
belajar dan kemampuan intelektualnya berkurang.
Bahkan, jika kekurangan zat besi berlangsung lama, misal, terjadi
sejak usia bayi dan tak dilakukan pengobatan sampai anak usia 2 tahun,
ini bisa menyebabkan gangguan mental. Bila anak sampai mengalami
gangguan mental, maka sifatnya akan menetap atau tidak bisa diubah,
meski anemianya sudah teratasi.
Oleh karena itu, seringan apa pun, anemia harus segera diatasi.
Selain dengan mengatasi penyebabnya, juga lewat obat-obatan. Pada
anemia ringan, antara lain dengaan pemberian suplementasi atau preparat
besi, yaitu sulfas ferosus, sampai kadar hemoglobinnya kembali normal.
Namun bila sudah mengganggu seperti anak pucat sekali dan kadar HB-nya
turun hingga menimbulkan gangguan jantung, misal, harus dilakukan
transfusi darah.
Sementara pencegahan dilakukan secara holistik, dalam arti
menyeluruh. Kita harus memonitor secara rutin tiap bulannya dengan
melihat BB dan TB anak, melakukan imunisasi, serta melihat kondisi
kesehatan anak secara umum. Selain sakit perut, diare atau
muntah-muntah anak yang mengalami keracunan juga bisa menyebabkan
pusing.
Sumber : nakita
0 komentar:
Posting Komentar